Berbunyi, semua murid kumpul di lapangan untuk mengikuti jalannya aerobik. Disana, mereka diberi petunjuk arah jalannya dan berdo'a. Beberapa menit kemudian mereka berangkat. Gerbang terbuka lebar, anak-anak dengan semangat bergandengan tangan tuk memeriahkan aerobik itu. Di pertengahan jalan, ada sekelompok geng yang salah satunya meneriakkan "heh hu tahu, itu lho ada geje, sana lho tembak!". Lalu si geje itu bergegas lari tanpa alasan dan meninggalkan temannya.
Beberapa hari kemudian, si geje penasaran dengan si tahu itu, lantas dia bertanya-tanya mengenai si tahu itu pada temannya. Lalu temannya bercerita banyak hal, dan katanya si tahu ikut lari ketika si geje lari. Sayangnya si geje tak tahu fakta dari semua itu. Hari terus berlalu, mereka sering bertatap muka, meski tatapannya tidak mengenakkan pandangan, setiap bertemu temannya bersorak-sorak. Meski tumbuh rasa sayang tetapi perasaannya sudah berbalik banding dengan yang dirasakannya. Harapan itupun pupus, tetapi ia tetap setia tuk menunggunya. Pernah suatu ketika saat disuruh sang guru mengoreksi dia mendapatkan hasil pekerjaannya selalu, tanpa sengaja beruntung.
Saat ulang tahun si tahu, ia mencoba berusaha tuk memberi kado yang istimewa, meski ia beri ketika sebulan lebih dari ulang tahunnya. Ia hiasi dengan aneka gambar yang sederhana, tetapi tanggapan darinya justru tak memuaskan dan membuat heboh satu sekolahan itu. Kemudian, saat-saat menegangkan, saat dimana untuk menentukan nasib masa depan, ya UN dihadapan mata. Meski UN didepan mata, ia tetap selalu memikirkannya. Dan pengumuman kelulusanpun tiba, perasaan seluruh murid campur aduk, senang sedih takut deg degan. Alhamdulillah 100% lulus pastinya, lalu memikirkan ke jenjang berikutnya. Mereka bingung ingin daftar kemana, kebanyakan pada nyabang untuk sebagai cadangan bila tidak diterima disekolah yang difavoritkan.
Saat ulang tahun si tahu, ia mencoba berusaha tuk memberi kado yang istimewa, meski ia beri ketika sebulan lebih dari ulang tahunnya. Ia hiasi dengan aneka gambar yang sederhana, tetapi tanggapan darinya justru tak memuaskan dan membuat heboh satu sekolahan itu. Kemudian, saat-saat menegangkan, saat dimana untuk menentukan nasib masa depan, ya UN dihadapan mata. Meski UN didepan mata, ia tetap selalu memikirkannya. Dan pengumuman kelulusanpun tiba, perasaan seluruh murid campur aduk, senang sedih takut deg degan. Alhamdulillah 100% lulus pastinya, lalu memikirkan ke jenjang berikutnya. Mereka bingung ingin daftar kemana, kebanyakan pada nyabang untuk sebagai cadangan bila tidak diterima disekolah yang difavoritkan.
Disuatu hari, dia iseng berdo'a kepada yang Kuasa, jika jodoh dengannya maka dekatkanlah satukan dengannya agar satu sekolah dengannya lagi. Alhasil dia diterima disekolah favorit tersebut, bahkan tetanggaan dengan kelasnya. Hari-hari dipenuhi dengan sorak-sorakan temannya terhadap dua orang itu. Meski demikian si geje pun tetap cuek dan berharap.
Lalu, ada sang senior mencoba mendekati si geje, hari-hari dipenuhi dengan sang senior tersebut. Merekapun satu ekstra wajib dan salah satu ekstra pilihannya pun sama. Karena si geje mencoba tuk membuka hatinya akhirnya mereka berdua jadian tetapi tidak lama merekapun putus, tepat sebelum hari istimewanya si geje itu. Ntah mengapa dia malah sedih ketika ditinggal sang senior, padahal dia masih menyimpan rasa dengan si tahu itu. Kemudian diajak balikan dengan sang senior, tetapi si geje menolaknya karena tak ingin kejadian itu terulang kembali.
Lalu, ada sang senior mencoba mendekati si geje, hari-hari dipenuhi dengan sang senior tersebut. Merekapun satu ekstra wajib dan salah satu ekstra pilihannya pun sama. Karena si geje mencoba tuk membuka hatinya akhirnya mereka berdua jadian tetapi tidak lama merekapun putus, tepat sebelum hari istimewanya si geje itu. Ntah mengapa dia malah sedih ketika ditinggal sang senior, padahal dia masih menyimpan rasa dengan si tahu itu. Kemudian diajak balikan dengan sang senior, tetapi si geje menolaknya karena tak ingin kejadian itu terulang kembali.
Kenaikan kelaspun tiba, berharap bisa duduk dikelas IPA, alhamdulillah ia dapat duduk dikelas IPA. Saat pembagian kelas, dia berharap lagi agar sekelas dengannya, tetapi sang Pencipta tak mengijinkan bahkan memisahkan mereka berdua. Si tahu tanpa alasan pindah sekolah ke luar kota, tangispun menghiasi harinya. Karena sang sahabat yang setia menemani si geje tetap semangat menjalani hari. Meski terkadang sang sahabat bosan tuk mendengar ceritanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar